(hentikan perampasan upah, tanah, kerja, pendidikan dan kesehatan )

Betapa tidak menariknya pemerintahan sekarang, “lelet, lembek, lemban=Rakyat Sengsara”  pernyataan ini, rasanya sangat relavan untuk kondisi objektif dewasa saat ini. Sesuai dengan keadaan 7 tahun pemerintahan SBY dan 2 tahun boediono ternyata tidak membawa perubahan yang sistematik disegala aspek. Berbagai persoalan dan dan berbagai intrik – intrik politik kotor dan bermain dalam wilayah kekuasaannya masing – masing, sehingga bangsa ini seakan – akan telah dipetak – petakan oleh kepentingan – kepentingan terselubung golongan -golongan tertentu. Muak rasanya jika harus mengulas permasalahan ini. Namun sebagai generasi penerus kita dituntut untuk tidak berdiam diri, diam, dan apatis dalam melihat keadaan ini.

Masih jernih dalam ingatan kita bahwa untuk beberapa generasi lamanya rakyat kita dibungkam suaranya, sebagian diantara mereka dilenyapkan dan hilang entah kemana dan sebagaian lagi dipenjarakan tanpa alasan yang jalas, sementara ketimpangan dan kecurangan terus disegala sektor pemerintahan dan elemen penting bangsa ini. 234,4 juta rakyat, mayoritas masih bergalut diantaranya masih bergelut dengan beban kemiskinan dan ketidak adilan. Selain itu indonesia dengan karakter setengah jajahan dan setengah feodal dibawah dominasi imprealisme AS masih berada dalam keadaan yang semakin terbelakang baik secara Ekonomi, politik maupun budaya. Fakta tersebut dibuktikan dengan kenyataan hidup rakyat indonesia yang terus merosot. Yang dipicu oleh tiga faktor utama, yaitu makin terjerumusnya rakyat dalam lubang penderitaan yang semakin dalam yaitu “Monopoli atas lahan dan tambang yang makin luas dan ketergantungan atas import, meningkatnya utang negara dan swasta mencapai 1,780 triliun,serta politik upah murah yang kian menjerat kehidupan kelas buruh”. Dan ironisnya hingga saat ini politik yang diusung rezim SBY – boediono masih menjadi kelas penguasa yang menjadi boneka imprealisme  yang selalu siap menjalankan kebijakan ekonomi Neoliberal yang merupakan produk imprealisme. Kenyataan tersebut terbukti dengan kebijakan dan kesepakatan – kesepakatan yang diambil dengan negara – negara imprealisme. Situasi politik lainnya menunjukkan adanya pertentangan antar klik reaksi (partai politik dan para elit politik nasional) untuk memperebutkan kekuasaan, memperebutkan posisi sebagai Rezim boneka Imprelialisme . Bahkan sampai saat ini SBY semakin membuktikan kesetiaannya dengan berbagai tindak kekerasan yang dilakukan terhadap rakyat dalam menyelesaikan kasus yang dihadapinya.

sumber : ALIANSI PERJUANGAN MAHASISWA (FMN, FPPI, DAKMU – UPN, KAM – ITS)