PAHLAWAN BERJUANG UNTUK KEMERDEKAAN BANGSA, PEMERINTAH BERJUANG UNTUK MENYENGSARAKAN RAKYAT

 

66 tahun yang lalu tepat dihari ini 10 November 2011. Surabaya Menangis, Surabaya Merintih, Surabaya dihujani Bom, Surabaya dibanjiri peluru, Surabaya bagai lautan api, dan Bocah – bocah kecil serta perempuan – perempuan tangguh berlinangan air mata disisi mayat – mayat pejuang tanpa gelar kepangkatan. Namun saat itu juga Surabaya Berkobar, Surabaya jadi symbol perlawanan kemudian dengan semangat perlwanan Arek – arek Suroboyo yang gagah dan berani berdiri tegap mengibarkan bendera perlawanan dan pesan perlawanan kepada penjajah, yang saat itu mampu menggugah semangat perlwanan seluruh rakyat disetiap peloksok nusantara. Surabaya, Arek – Arek Suroboyo, Semangatnya, dan pengabdiannya yang tanpa pamrih adalah Simbol kepahlawanan.

Dan hari ini dengan segala persoalan yang dialami oleh bangsa ini, pertanyaan terbesar kita adalah, “Masihkah ada semangat kepahlawanan itu pada diri kita untuk mewujudkan Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia?”. Sebagian besar orang hanya bisa bergeleng – geleng kepala jika melihat keadaan objektif bangsa kita, dewasa ini dengan pancasila sebagai landasan teori. Berbagai persoalan kini melanda bangsa kita. Kemiskinan, kelaparan, carut marutnya dunia politik, hingga pemberontakan dibeberapa daerah yang ingin memisahkan diri dengan NKRI adalah persoalan terbesar bangsa kita dewasa ini.

Kenyataannya jelas, ketimpangan dan kecurangan terus terjadi disegala sektor pemerintahan dan elemen penting bangsa ini. 234,4 juta rakyat kita, mayoritas diantaranya masih bergelut dengan beban kemiskinan dan ketidak adilan. Terdapat 9.258.964 pengangguran terbuka,  dan 626.621 jiwa diataranya adalah pengangguran dari bangku perguruan tinggi. Disektor pendidikan terdapat 15,04 rakyat Indonesia adalah penyandang buta aksara, sementara itu ditengah situasi krisis Indonesia, beban penghidupan rakyat akan semakin hebat. Bahkan diperkirakan paling tidak 1 juta anak Indonesia terancam putus sekolah dasar. Dalam waktu 6 tahun ini dari sebanyak 25.729.254 anak sekolah dasar, 761.366 diantarnya mengalami putus sekolah pertahunnya, dan dipastikan akan terus bertambah. Disektor Prekonomian ataupun sektor ketenaga kerjaan, Jutaan buruh masih berada dibawah bayang – bayang PHK, tidak mendapatkan pelayanan yang baik, dan kerap mendapatkan perlakuan – perlakuan yang tidak manusiawi (TKI diluar negeri). Disektor kesehatan, mayoritas masyarakat kita tidak mendapatkan kesehatan yang layak dan murah ditengah program kesehatan gratis bagi rakyat miskin yang sampai hari ini tak ubahnya hanya sebagai jargon dan pencitraan politik semata. Kemudian perampasan tanah atau monopoli atas lahan yang dilegalkan oleh pemerintah kita yang kenyataannya pada hari ini hanya dinikmati segelintir pengusaha dan prusahaan – perusahaan baik swasta mapun negeri. Dan ironisnya hingga saat ini, politik yang diusung Rezim SBY-Budiono masih menjadi klas penguasa yang menjadi boneka Imperialisme yang selalu siap menjalankan kebijakan ekonomi Neoliberal yang merupakan Produk Imperialisme. Kenyataan tersebut terbukti dengan berbagai kebijkan dan kesepakatan-kesepakatan yang diambil dengan Negara-negara Imperialisme. Situasi Politik lainnya menunjukkan adanya pertentangan antar klik Reaksi (Partai Politik dan para elit politik Nasional)  untuk memperebutkan kekuasaan, Memperebutkan posisi sebagai Rezim boneka Imperialisme. Bahkan saat ini SBY semakin membuktikan kesetiaanya dengan berbagai tindak kekerasan yang dilakukan terhadap rakyat dalam menyelesaikan kasus yang dihadapinya. Belum lagi korupsi yang terjadi diberbagai elemen pemerintahan, termasuk wilayah hukum yang seharusnya menjadi panglima atas segala persoalan-persoalan bangsa dewasa ini. Dengan kondisi seperti ini dan sistem seperti ini, BERMIMPI untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan dan kehidupan yang layak bagi mayoritas masyarakat kita adalah hal yang sangat utopis. Jangankan soal kesejahteraan untuk rakyat, untuk kedaulatan dan keutuhan NKRI sekalipun Pemerintahan atau Rezim SBY – Boediono sama sekali tidak menunjukkan ketegasan.

Berbagai persoalan ini sangat kompleks, membingungkan dan sangat menjengkelkan. Rezim yang seharusnya memiliki semangat kepahlawanan ternyata hanya bisa menjadi penjajah bagi rakyatnya sendiri. Kekayaan alam digadaikan kebangsa asing, tenaga petani, buruh dan kaum miskin kota serta generasi – generasi muda hanya dipersiapkan untuk menjadi budak – budak yang dijual murah dipasaran nasional maupun internasional. Kemudian para pahlawan yang dulunya mati – matian membela eksistensi NKRI diabaikan, dibiarkan hidup dalam kemiskinan dan keterpurukan ekonomi. Hanya diberi tunjangan sebesar Rp. 11.000,- / bulan bagi yang cacat biasa dan Rp.44.000,- bagi yang cacat parah ini khusus diwilayah kota Surabaya dan tidak menutup kemungkinan hal serupa bahkan lebih parah lagi terjadi didaerah lain. Dan yang lebih parahnya adalah kondisi ini lahir ditengah semboyan besar bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa – jasa para pahlawan dan sejarah bangsanya”. Semboyan ini kerap digunakan oleh para punggawa negeri ini sebagai pencitraan politik busuk golongan mereka masing – masing. Sehingga dewasa ini tak ada argument yang tepat, yang dapat meyakinkan kita bahwa bangsa ini akan diselamatkan oleh mereka yang sedang berleha – leha di kursi empuk kekuasaan.